“Apabila” yang Berbeda

Kemarin, saya berbincang-bincang dengan teman. Seperti biasa bahasa yang kami gunakan terdiri dari 3 bahasa, yaitu Indonesia, Melayu Malaysia, dan Inggris. Namun, saya cukup bingung dengan penggunaan kata “apabila” yang diucapkannya itu, karena “apabila” yang ia maksud bukanlah “apabila” yang kita mengerti.

Teman saya menceritakan bahwa dirinya tiba ke rumah temannya di Kuala Lumpur pada saat temannya itu sedang membaca. Dalam Bahasa Malaysia, ia mengatakannya seperti ini:

“Sally sedang membaca apabila saya tiba di rumahnya.”
(Sumber: Analisis Kesalahan Tata Bahasa Malaysia)

“Maksudnya apa? Sally (nama temannya itu) baru membaca kalau kamu tiba di rumahnya? Berarti kalau kamu tidak mendatangi rumahnya, ia tidak akan membaca?” Banyak pertanyaan muncul karena bingung. Namun kebingungan saya bukan terletak pada arti kata, tapi lebih pada maksud kata bahwa Sally baru mau membaca jika teman saya tiba di rumahnya.

Kemudian ia menjawab, “Bukan macam tu yang saya maksud, let me explain in English:

She was reading when I arrived at her house.

Ia suka sangat membaca, tak kisah ia baru membaca semasa saya tiba”
(Ia sangat suka membaca, tak mungkin ia hanya membaca kalau saya datang ke rumahnya).

Ternyata artinya adalah “Sally sedang membaca ketika saya tiba di rumahnya.” Penggunaan “apabila” dalam Tata Bahasa Malaysia dapat bermakna “ketika” dalam Tata Bahasa Indonesia.

Kata “ketika” dalam Bahasa Indonesia menunjukkan ‘Kata Hubung (Konjungsi) Kesewaktuan’. Kata Hubung Kesewaktuan adalah kata yang menghubungkan pernyataan waktu antara dua peristiwa atau tindakan, pada dua klausa (gabungan kata) dalam sebuah kalimat majemuk. Kata-kata yang termasuk dalam kata hubung ini yaitu ‘ketika’, ‘waktu’, ‘sewaktu’, ‘saat’, ‘tatkala’, ‘selagi’, ‘sebelum’, ‘sesudah’, ‘setelah’, ‘sejak’, ‘semenjak’, dan ‘sementara’.

Sementara, kata “apabila” dalam Bahasa Indonesia menunjukkan ‘Kata Hubung Persyaratan’. Kata Hubung Persyaratan adalah kata yang menghubungkan pernyataan syarat untuk keadaan atau peristiwa yang terjadi pada klausa utama dalam sebuah kalimat majemuk. Kata-kata yang termasuk dalam kata hubung ini yaitu ‘kalau’, ‘jika’, ‘jikalau’, ‘bila’, ‘bilamana’, ‘apabila’, ‘asal’, ‘andaikata’, ‘seandainya’, ‘andaikan’.

Berbeda dengan Bahasa Indonesia, kata “apabila” dalam Bahasa Malaysia digunakan sebagai kata hubung pancangan (penghubung atau pemancang dua klausa utama yang setaraf atau sejajar) dalam keterangan waktu. Dilihat dari kata ‘bila’ yang artinya ‘kapan’ dalam Bahasa Malaysia, bukan pengandaian seperti dalam Bahasa Indonesia, maka jelas bahwa “apabila” digunakan untuk menunjukkan keterangan waktu.

Berikut contoh kata “apabila” dalam kalimat menggunakan dua tata bahasa

Tata Bahasa Indonesia:

“Kami akan hadir apabila diundang”
(We will come if we are invited)

“Apabila lapar, kami akan memakan ikan ini”
(If we hungry, we will eat this fish)

Tata Bahasa Malaysia:

“Saya terkejut apabila Lili menjerit.”
(I surprised when Lili was scream)

“Apabila bertemu, kami jarang bertegur sapa”
(When we met, we are seldom to greet each other)

Terlihat bedanya ‘kan?

Daftar Pustaka:

  • Chaer, Abdul. 2009. Sintaksis Bahasa Indonesia (Pendekatan Proses). Jakarta: Rineka Cipta.
  • Azar, Betty Schrampfer. 2003. Fundamentals on English Grammar, Third Edition with Answer Key. New York: Pearson Education.
  • Analisis Kesalahan Tatabahasa pada http://tatabahasabm.tripod.com diakses: 16 Mei 2010
  • Kata Hubung Pancangan pada http://bm.cemerlangbm.com diakses: 16 Mei 2010

Tentang Bahasa Saya

Menyukai Bahasa
Pos ini dipublikasikan di Bahasa, Malaysia dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s