SEBUAH TANGGAPAN: “NOVEMBER RAIN”

Pilihan Bahasa: ไทย (Thailand)

::prolog::

Seperti halnya Jakarta, begitu pula Semarang dan daerah-daerah lainnya di Indonesia bagian selatan, sudah mulai sering diguyur hujan.

Entah kenapa hati ini gembira kala hujan datang dan merasa bimbang jika hujan turun terlalu lama. Tetapi, kesejukannya membuat saya merasa tenang. Sambil mendengarkan lagu Sherina berjudul Pelangiku, yang bernuansa hujan lalu timbul pelangi di penghujungnya, membuat saya tetap bersemangat meskipun hari begitu dingin.

Hujan, selalu membawa kesejukan bagi muka bumi ini walaupun sering juga hujan ini menunda segala kegiatan. Namun hujan diturunkan dengan keikhlasan alam dalam menciptakan suatu siklus kehidupan yang selalu bergerak di dalam alam semesta ini. Sehingga, hujan mempunyai bagian penting dalam kehidupan kita, dan hendaknya kita senantiasa belajar dari alam.

::tentang garis hidup::

Keadilan… sebuah kata benda yang kini banyak dibicarakan, di mana keadilan itu? Sesungguhnya keadilan itu ada di dalam diri kita sendiri, yaitu di dalam lubuk hati kita yang paling dalam. Sesungguhnya di sanalah segala bentuk keadilan berada bagi kita setiap manusia, karena pada dasarnya semua manusia mengetahui keadilan itu, karena kita diciptakan oleh Tuhan yang Maha Adil. Hanya saja, seiring bergulirnya hidup membuat manusia menjadi unik dan mempunyai anggapan keadilan masing-masing. Pernahkah Anda merasa gemetar ketika melakukan kesalahan? Reaksi seorang anak kecil adalah menangis (meminta pertolongan orang tua), namun sebuah semiotika membuat kita untuk tidak menangis. Semiotika membuat kita melogikakan pertentangan di hati kita. Sehingga menjadikan celah-celah munculnya ketidakadilan itu.

Hujan selalu adil, ia mengikuti apa yang menjadi hukumnya. Hujan turun ketika kita membutuhkannya, bukan ketika kita menginginkannya. Meskipun kini di Batam sedang cerah dan di Semarang hujan, karena Semarang membutuhkan hujan dan Batam menginginkan hujan. Namun beberapa bulan kemudian Batam membutuhkan hujan, dan Semarang hanya menginginkannya. Begitu pula garis hidup, kita merasa Tuhan telah tidak adil, karena melihat orang lain mengalami apa yang kita inginkan. Padahal sesungguhnya Tuhan telah memberikan apa yang kita butuhkan dalam melaksanakan hidup sebagai khalifah di muka bumi ini. Tuhan memang Maha Adil.

::tentang pasangan hidup::

Kita sering menginginkan sesuatu, namun sudahkah kita dibutuhkan untuk itu? Hendaklah belajar dari alam. Hujan turun ketika petani membutuhkannya, dan belum tentu turun ketika petani menginginkannya. Jika sudah tiba waktunya, kita baru akan sadar setelah melaluinya. Maka jangan bimbang dan jangan ragu untuk terus berusaha menjadikan hidup ini menjadi sangat baik. Bijaksana merupakan hal utama dalam menyikapi segala keinginan. Sebab, Tuhan senantiasa memberikan apa yang kita butuhkan tepat pada waktunya.

::epilog::

Banyak orang yang kini mulai mengagungkan logika yang mereka miliki dengan mengatakan intelektual merupakan sebuah peradaban. Namun banyak yang tidak memahami bahwa sesungguhnya, kita membutuhkan alam untuk belajar.

Terus belajar membuat wawasan kita bertambah. Jika kita mampu untuk belajar dari alam, maka kita akan mengerti, dan membuat kita lebih bijaksana dalam memahami keadaan serta mengenal pencipta kita lebih dekat.

Hujan masih mengguyur namun intensitasnya mulai berkurang… namun masih banyak yang harus kita lakukan. Ikhtiar, dan berdoalah, karena kita hanya sebatas merencanakan, tetapi Tuhan yang menentukan.

Tentang Bahasa Saya

Menyukai Bahasa
Pos ini dipublikasikan di Lainnya dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s